Category: Ekonomi

Ekonomi Indonesia Bisa Lebih Maju Jika Ibu-Ibu Tak Berhenti Bekerja

Secara tradisional, Hari Ibu mengingatkan kita pada pengorbanan ibu-ibu di dalam hal membesarkan anak-anaknya, dan laki-laki mendapatkan perlakuan yang istimewa. Akan tetapi sebuah lembaga survey dari Indonesia-Australia mengukur ‘pengorbanan’ dari ibu yang berhenti bekerja hanya demi mengurus anak dan juga rumah tangganya secara ekonomi dan besarnya mencapai Rp. 1600 triliun.

Ibu yang Memilih Berhenti Bekerja

Contohnya Agnes Wulandari, ia terpaksa harus mengundurkan diri dari pekerjaannya guna mengurus anaknya yang waktu itu sedang sakit. Kantornya sendiri tak memberikan dirinya fleksibilitas yang mana membuatnya bisa merawat anaknya di Rumah Sakit sambil dirinya mengerjakan tugasnya sebagai seorang konsultan pajak.

“Waktu itu aku galau antara lanjut (kerja) atau tidak. Tapi kayaknya pilihannya lebih baiknya anakku dulu deh,” tutur Agnes yang dilansir dari BBC Indonesia. Agnes akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai konsultan pajak di tahun 2015.

Jutaan perempuan yang lainnya juga menghadapi situasi yang dilematis, sama seperti apa yang dialami oleh Agnes. Pilihannya adalah memilih berumah tangga atau berkarir. Dan sebagian besar dari mereka akhirnya mengambil pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga.

“Aku sadar, mereka (anak) masih dalam waktu golden age period, kecerdasan mereka itu lah yang ditentukan pada masa-masa ini. berangkat dari sana lah dan aku juga merasakan rutinitas yang mana melelahkan, saat aku sampai rumah, anak-anak sudah tidur semua. Setelah menimbang sekian lamanya, butuh waktu berbulan-bulan untuk pada akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri saja,” kisah Febi, seorang karyawan dari perusahaan media.

Perempuan Berhenti Bekerja pada Tahun Pertama Punya Anak

Situasi seperti ini adalah khusus dialami oleh wanita. Dan tidak dihadapi oleh laki-laki. Pada tahun 2016, kira-kira ada 1,7 juta perempuan dari jumlah 11 juta di usia 20-24 tahun yang keluar dari angkatan kerja. Alasannya karena pernikahan dan juga memiliki anak. Hal ini sebenarnya berdasarkan temuan TOGEL ONLINE dari sebuah lembaga riset Australia Indonesia Partnership for Economic Governance atau AIPEG.

“Dari studi kami ini ditunjukkan bahwasanya ada kurang lebih 40% perempuan yang berhenti bekerja pada tahun pertama setelah mereka punya anak pertama,” ucap ekonom AIPEG, Ariane Utomo. Lembaga tersebut juga menemukan perempuan-perempuan yang keluar dari pekerjaannya karena menikah dan juga karena punya anak bakal kembali lagi bekerja di usi yang lebih matang, yakni usia 40 tahun, saat itu anak mereka sudah cukup besar.

Urusan Rumah Tangga=Urusan Perempuan?

Ini juga terkait dengan adanya pandangan sosial dan juga budaya dari Indonesia, yang mana menempatkan urusan kerumahtanggaan sebagai sebuah tugas dari perempuan. “Dalam budaya kita, budaya keluarga juga masih begitu, sama paradigmanya. Laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarganya. Jadi justru yang harus dipertahankan adalah pekerjaan dari suami. Istri harusnya ngalah…” ungkap Febi lagi.

Angka partisipasi perempuan pada angkatan kerja di Indonesia sekarang ini adalah 53% yang mana berarti 1 dari 2 perempuan yang ada di usia kerja (12-64 tahun) tak bekerja. “Ini adalah sebuah kerugian besar atas potensi dari produktifitas Indonesia,” ungkap Ariane Utomo.

Menurut AIPEG, jika di tahun 2025 angka partispasinya dinaikkan jadi 59% maka PDB Indonesia bakal meningkat sebesar $123 milyar dan menjadi meningkat bahkan lebih dari $3,4 triliyun. Angka ini hanya sedikit di bawah PDB Rusia sekarang ini. PDB per kapitanya juga akan meningkat menjadi $423, lebih $4 ribu.