Category: Internasional

Cuaca Buruk, Hujan Salju Lebat Bikin Paris Tenggelam 12 Cm

Kondisi cuaca yang buruk sepertinya memang tidak hanya dialami penduduk Indonesia saja. Ya, beberapa kawasan di Tanah Air memang tengah mengalami musibah banjir dan longsor karena curah hujan yang sangat tinggi. Namun di luar negeri seperti kawasan Eropa, cuaca buruk juga menjadi momok. Salah satunya adalah ibukota negara Prancis, Paris, yang tengah lumpuh karena hujan salju super lebat.

 

Bahkan salju lebat menyebabkan terganggunya transportasi publik di Paris dan wilayah sekitarnya. Dilaporkan pula jika ratusan orang yang terjebak di jalanan licin penuh es, harus meninggalkan mobil-mobil mereka dan terpaksa tidur di berbagai tempat darurat. Seperti dilansir AFP, sekarang jalan-jalan di Paris dan sekitarnya tertutup salju mencapai ketebalan 12 cm. Sejumlah trem, jalur kereta komuter dan layanan bus pun berhenti beroperasi.

 

Tak cuma itu saja, bandara utama Charles de Gaulle dan Orly di Paris dilaporkan terganggu hingga Rabu (7/2) kemarin. Beberapa jadwal penerbangan terpaksa ditunda sehingga banyak penumpang pesawat harus menanti di bandara. Frederic de Lanouvelle selaku juru bicara Kementrian Dalam Negeri Prancis menyebut jika pihaknya tengah berupaya mengevakuas sekitar 1.500-2.000 orang yang terjebak di jalan raya kawasan selatan Paris.

 

Paris Lumpuh, Pemerintah Siapkan Penampungan

 

Karena tebalnya salju yang memenuhi kawasanan jalanan di Paris, otoritas setempat sampai membuka pusat-pusat penampungan darurat bagi warga togel sgp yang terdamak. Lanouvelle tak menampik jika kini Paris tengah mengalami situasi yang cukup rumit dan luar biasa. Supaya menghindari insiden yang tak diinginkan, Lanouvelle menghimbau agar para sopit tak mengoperasikan kendaraannya hingga Kamis (8/2) kemarin.

 

Lanouvelle menuturkan kalau pemerintah menyiapkan 46 penampungan darurat yang diperuntukkan bagi para tuna wisma dan warga-warga lain yang terperangkap salju. Penampungan itu mampu menampung hingga 1.000 orang. Karena masih banyak orang-orang yang harus terperangkan di stasiun dan bandara, Lanouvelle menyebutkan kalau ada 2.500 staf layanan darurat yang diterjunkan. Dilaporkan pula jika sedikitnya 700 pelancong sampai harus tertahan di stasiun karena memang seluruh sistem transportasi publik masih berhenti.

 

Masih Kalah Dengan Salju Tahun 2010

 

Meskipun hujan salju lebat ini sampai melumpuhkan transportasi dan kehidupan masyarakat, faktanya ada saja pihak yang bersenang-senang. Ya, rupanya ada beberapa pemain ski yang menilai jika hujan salju lebat di Paris adalah sebuah berkah. Dilaporkan jika hari Kamis (8/2) kemarin, beberapa pemain ski tampak santai meluncur di jalan-jalan berbukit Montmartre kota Paris selama beberapa jam lamanya.

 

Salah satu pemain ski yakni Gilles yang sekaligus adalah pendiri Montmartre Ski Club menyebut kalau salju yang menutupi jalanan Paris tahun ini cukup bagus dan halus. Hanya saja jika dibandingkan dengan hujan salju tahun 2010, masih kalah. “Saljunya cukup bagus, sedikit halus. Tapi tidak sehebat saat tahun 2010. Tahun 2010 itu bersejarah,” papar Gilles.

 

Sekedar informasi, musibah hujan salju tebal yang terjadi pada awal Desember tahun 2010 itu memang jadi bencana besar. Kala itu bandara sampai ditutup dan sistem transportasi publik di Paris benar-benar lumpuh total. Bahkan hujan salju tujuh tahun silam itu dianggap sebagai yang terbesar di Prancis sejak tahun 1987. Saat itu ikon wisata Paris, menara Eiffel, terpaksa ditutup untuk umum. Bencana itu sampai membuat jalur transportasi di Eropa lumpuh karena pihak bandara kekurangan cairan peleleh es Glycol sehingga pesawat terbang tidak mampu tinggal landas atau bahkan mendarat.

AS Berencana Memotong anggaran PBB Terkait Kasus Yerusalem

Donald Trump dalam beberapa minggu terakhir ini telah beberapa kali mengancam akan memangkas dana yang mereka kucurkan kepada PBB serta Negara-negara anggota organisasi multilateral tersebut.

 

Menurut analisis surat kabar The New York Times, preteks dari seluruh ultimatum tersebut selalu dengan nada yang sama: Bila tak ingin Amerika mengurangi atau memutus anggaran dana bagi mereka, PBB serta seluruh Negara anggota harus patuh kepada AS.

 

Ultimatum terbaru yang dilontarkan pada 24 desember 2017 tersebut mengatakan bahwa AS akan memangkas dana untuk PBB pada periode 2018-2019 hingga sebesar US$ 285 juta.

 

Perwakilan Tetap (Duta Besar) AS di PBB, Nikki Haley, menyatakan bahwa pemangkasan anggaran tersebut diperlukan karena AS menganggap bahwa organisasi terlalu boros serta kurang efisien dalam pengelolaan dana. Masih menurut Haley, pihaknya tak akan membiarkan PBB untuk memanfaatkan kemurahan hati Amerika lagi, dan pihaknya juga terus mencari cara agar PBB dapat berpihak terus-menerus pada kepentingan Amerika.

 

Beberapa jam sebelum  Majelis Umum PBB mengadakan sidang untuk melakukan voting berkaitan dengan rancangan resolusi untuk menolak klaim Presiden Amerika tersebut atas Yerusalem sebagai ibukota Israel, AS juga meluncurkan ultimatum bernada sama pada 21 desember 2017.

 

Trump mengancam akan menghentikan bantuan kucuran dana senilai miliaran dolar AS bagi Negara-negara yang mendukung rancangan resolusi tersebut.

 

Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley, mengatakan bahwa ia akan “mengingat” Negara-negara mana saja yang mendukung terjadinya resolusi tersebut. Pernyataan tersebut dikatakan saat Amerika mengalami kekalahan telak pada sidang darurat Majelis Umum PBB.

 

Sebagaimana yang dikutip oleh The Guardian, Kamis 21 desember  2017, Trump mengatakan, Amerika akan lebih banyak menghemat, bila Negara-negara yang pernah menerima ratusan dolar dari negaranya memilih untuk melawan AS.

 

Keputusan AS memancing kritik

Sejumlah pengamat politik faktanya mengritik rencana ultimatum anggaran tersebut serta menganggap bahwa rencana kebijakan tersebut justru akan menimbulkan akibat buruk untuk Amerika sendiri pada beberapa waktu ke depan.

 

Hal senada dikatakan oleh Stewart Patrick pada The New York Times, analis senior untuk Council on Foreign Relations itu menegaskan bahwa Negara lain akan kehilangan rasa respek mereka kepada Negara Paman Sam itu.

 

Selain itu ultimatum tersebut juga akan menghancurkan hubungan diplomatic yang sebelumnya terjalin baik antara  AS dengan PBB, dan meggeser dinamika diplomasi menjadi seolah-olah bisnis yang hanya mengutamakan uang.

 

Masih menurut Patrick, seharusnya hubungan diplomatic dengan luar negeri bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dengan hal-hal yang sifatnya seperti jual beli Dewa poker seperti ini.

 

Tetapi ada pula analis yang  mempunyai pendapat lain, dengan tak terlalu mempermasalahkan rencana AS untuk memangkas anggaran organisasi multilateral bangsa-bangsa tersebut. Menurut Louis Charbonneau, Direktur Bidang PBB untuk Human Right Watch, dengan memangkas anggaran, tak berarti AS turut memperkecil  keikutsertaannya pada PBB terutama atas timbulnya berbagai masalah yang berkaitan dengan HAM.

 

Sementara menurut situs berita politik The Hill, walaupun masih merupakan rencana tetapi pemangkasan anggaran tersebut diperkirakan akan memberikan efek yang cukup signifikan karena AS adalah salah satu penyumbang dana utama PBB. Dari total anggaran tahunan PBB, AS berkontribusi hingga sebesar 22%.

 

Ini artinya sumbangan AS mencapai US$ 1.2 miliar dari keseluruhan total biaya operasional tahunan BPP yang jumlahnya mencapai US$ 5.4 miliar. Untuk mendanai operasi penjaga perdamaian PBB, AS juga berkontribusi cukup besar, yaitu mencapai 28.5% atau sekitar US$ 6.8 milar.